Selasa, 18 Oktober 2011

Kesehatan Reproduksi Remaja


kissing-in-the-rain-with-umbrella.jpgKesehatan reproduksi remaja menjadi isu yang sangat penting sebab remaja merupakan populasi terbesar di Indonesia, jumlahnya mencapai 22,2% dari total populasi penduduk Indonesia (sekitar 44,6 juta penduduk), jumlah yang sangat besar dan sangat mempengaruhi kekuatan bangsa Indonesia dalam menjalankan kehidupannya.  Sebagian besar remaja kurang pengetahuannya mengenai reproduksi dan seksualitasnya dan mereka tidak mempunyai akses untuk informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi.
Perubahan yang terjadi pada tahun-tahun terakhir ini mempengaruhi setiap individu di masyarakat khususnya kehidupan para remaja. Perubahan-perubahan ini misalnya pola perkawinan (tingginya angka perkawinan usia muda), hubungan seksual sebelum menikah tanpa alat pencegah kehamilan, sehingga mengakibatkan tingginya angka kehamilan yang tidak dikehendaki, aborsi yang tidak aman, cepatnya penyebaran infeksi menular seksual, khususnya infeksi HIV/AIDS (50% dari semua kasus baru infeksi HIV terjadi diantara remaja yang berumur 15-24 tahun).
Kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan sosial terhadap remaja semakin menjadi perhatian. Di Indonesia banyak organisasi yang telah menciptakan berbagai program agar dapat memenuhi kebutuhan para remaja di bidang kesehatan reproduksi remaja, baik program pemerintah maupun program non pemerintah.




A.   Program Pemerintah
1.      PIK Remaja dan Mahasiswa
Program kesehatan reproduksi remaja merupakan salah satu program pokok pembangunan nasional yang tercantum dalam RPJM 2004-2009. Salah satu sasaran strategis yang ingin dicapai adalah berkaitan erat dengan program kesehatan reproduksi remaja yang ditingkatkan melalui PIK-KRR (pusat informasi dan konseling kesehatan reproduksi remaja).
Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) oleh BKKBN dibagi menjadi dua yaitu: Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja) dan Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa (PIK Mahasiswa) .

2.      Program Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)
Sejak tahun 2003 model pelayanan kesehatan yang ditujukan dan dapat dijangkau remaja, menyenangkan, menerima remaja dengan tangan terbuka, menghargai remaja, menjaga kerahasiaan, peka akan kebutuhan terkait dengan kesehatannya, serta efektif dan efisien dalam memenuhi kebutuhan dan selera remaja diperkenalkan dengan sebutan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR).
PKPR dilaksanakan di dalam gedung atau di luar gedung Puskesmas termasuk Poskestren, menjangkau kelompok remaja sekolah dan kelompok luar sekolah, seperti kelompok anak jalanan, karang taruna, remaja mesjid atau gereja, dan lain-lain yang dilaksanakan oleh petugas puskesmas atau petugas lain di institusi atau masyarakat.
Jenis kegiatan PKPR meliputi penyuluhan, pelayanan klinis medis termasuk pemeriksaan penunjang, konseling, pendidikan keterampilan hidup sehat (PKHS), pelatihan pendidik sebaya (yang diberi pelatihan menjadi kader kesehatan remaja) dan konselor sebaya (pendidik sebaya yang diberi tambahan pelatihan interpersonal relationship dan konseling), serta pelayanan rujukan.
Jumlah Puskesmas PKPR dari 33 Provinsi yang melaporkan sampai dengan bulan Desember 2010 sebanyak 2190 puskesmas dan jumlah tenaga kesehatan yang dilatih PKPR sampai Desember 2008 sebanyak 2232 orang.

Dalam melayani permasalahan remaja khususnya,  Kementrian Pendidikan telah mewajibkan adanya fasillitas UKS di setiap sekolah negeri mau pun swasta.  Hal ini adalah untuk membantu mengatasi permasalahan siswa/siswi terutama yang menginjak dewasa dalam lingkup sekolah. Silakan klik file terlampir lebih jauh mengenai program UKS.

CERIA (Cerita Remaja Indonesia) merupakan program BKKBN dalam rangka menyampaikan pendidikan seksual pada remaja

B.   Program non Pemerintah (di bawah LSM)
Program ini bertujuan agar semua anak dan remaja (termasuk remaja di pasar, pesantren, sekolah, maupun jalanan) memahami dan mampu membuat keputusan secara bertanggung jawab dan mempraktekkan kesehatan reproduksi & seksual serta hak-hak kesehatan reproduksi & seksual yang berkesetaraan dan berkeadilan gender. Program non Pemerintah, yaitu:
1.      Program Intervensi Perubahan Perilaku
Program KPAN (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional), Kementrian Kesehatan dan PKBI dalam pencegahan HIV/AIDS. Bentuk programnya yaitu dengan training untuk perubahan perilaku pada remaja.

2.      Program Bina Anaprasa (BA)
Dirintis pada tahun 1979 oleh Prof. DR. M. Haryono Sudigdomarto di Jawa Timur, konsep BA mengangkat potensi keluarga dan masyarakat untuk mengembangkan pendidikan pra sekolah (3 – 6 tahun) yang memberikan wadah tumbuh kembang bagi anak sehingga menjadi anak yang sehat, cerdas, ceria, kreatif, dan berbudi pekerti tinggi. Pada saat yang sama, BA juga menjangkau dalam bidang KB, kesehatan reproduksi, kesehatan diri, kebersihan lingkungan, hingga peningkatan ekonomi keluarga.
Melalui program ini PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) mengajak masyarakat untuk menganalisa kebutuhan mereka dalam hal kesehatan reproduksi yang entry point-nya  pendidikan usia dini bagi anak-anak  dan pendidikan kesehatan bagi ibu atau orang tua.  Masyarakat diharapkan menyediakan tempat untuk sekolah dan tenaga pengajar serta mengelola program. 
Saat ini program ini tersebar di 41 sekolah di Bengkulu  DKI Jakarta , Jawa Timur , Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah , Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat.
Selain itu PKBI juga mengembangkan Program Pendidikan Kecakapan Sosial Anak usia 4-6 tahun untuk Meningkatkan Kecakapan Sosial dan Emosi Anak dan Mencegah Kekerasan Seksual terhadap Anak. Melalui program ini PKBI telah mengembangkan media-media pendidikan penunjang seperti boneka yang bisa melahirkan , buku cerita seperti  “Tubuhku” untuk anak-anak dan buku pedoman bagi orang tua dan guru.

3.      Women’s Crisis Center
Sejak tahun 1993, di Indonesia telah berdiri berbagai Women’s Crisis Center. Di antaranya Rifka Annisa di Jogjakarta, Mitra Perempuan di Jakarta, Sahabat Perempuan di Magelang, dsb.
Aktivitas WCC secara mayoritas adalah memberikan pelayanan pendampingan untuk para korban kekerasan terhadap perempuan. Kasus yang menonjol terjadi di antara remaja perempuan adalah kekerasan oleh pasangan (pacar), perkosaan dan pelecehan seksual. Selain itu, para WCC ini biasanya juga melakukan advokasi agar ada kebijakan baik di tingkat nasional maupun nasional yang mendukung pencegahan kekerasan terhadap perempuan ataupun kerja-kerja pendampingan bagi korban kekerasan, termasuk di dalamnya remaja perempuan.
Di luar pendampingan dan advokasi, juga banyak diselenggarakan training, workshop, kampanye dan sebagainya yang ditujukan untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang isu gender dan kekerasan berbasis gender. Untuk remaja, Rifka Annisa di Jogja pernah melakukan Youth Camp, sebagai bagian dari upaya penyadaran gender bagi remaja.

4.      Pusat Informasi dan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja (PIPR / Youth Center)
Kelompok Remaja.jpgKegiatan yang dilakukan oleh Youth Center antara lain :
§  Penyebaran informasi bagi remaja di sekolah dan luar sekolah termasuk pesantren.
§  Training tentang kesehatan dan hak-hak seksual serta reproduksi remaja untuk peer educator, konselor,  wartawan, orangtua, tokoh masyarakat dan  guru.
§  Seminar, panel diskusi, diskusi kelompok, konseling (tatap muka, surat, email, telepon), radio program, surat kabar, pelayanan medis, on the spot clinic.
§  Melakukan advokasi kaitannya dengan isu Kesehatan Reproduksi Remaja
Prinsip  program remaja di PKBI antara lain :
§  Remaja berhak mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi yang lengkap dan tepat sesuai dengan kebutuhan mereka
§  Remaja berhak dilibatkan dalam pelaksanaan program, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi
§  Remaja perlu memiliki sikap dan perilaku yang sehat dan bertanggung jawab berkenaan dengan kesehatan reproduksinya
Pendekatan yang dilakukan Youth Center adalah dari, untuk dan oleh remaja. PKBI secara rutin merekrut remaja untuk diseleksi dan dilatih menjadi peer educator atau peer counselors.  Youth Center ini sepenuhnya dikelola oleh remaja.
Saat ini PKBI memiliki 28 Youth Center yang tersebar di 24 propinsi di seluruh Indonesia, yaitu DI Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan,  Jambi, Bengkulu, Lampung, Riau, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulwesi Tengah, dan Papua.















DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI, Direktorat Kesga, Materi Pelatihan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja, 2003.
http://www.k4health.org/toolkits/indonesia/program-program-kesehatan-reproduksi-remaja-6
(Dikutip tanggal 09 April 2011 jam 20:46)
(Dikutip tanggal 09 April 2011 jam 20:57)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar