Kesehatan
reproduksi remaja menjadi isu yang sangat penting sebab remaja merupakan populasi terbesar
di Indonesia, jumlahnya mencapai 22,2% dari total populasi penduduk Indonesia
(sekitar 44,6 juta penduduk), jumlah yang sangat besar dan sangat mempengaruhi
kekuatan bangsa Indonesia dalam menjalankan kehidupannya. Sebagian besar remaja
kurang pengetahuannya mengenai reproduksi dan seksualitasnya dan mereka tidak
mempunyai akses untuk informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi.
Perubahan yang terjadi pada
tahun-tahun terakhir ini mempengaruhi setiap individu di masyarakat khususnya
kehidupan para remaja. Perubahan-perubahan ini misalnya pola perkawinan
(tingginya angka perkawinan usia muda), hubungan seksual sebelum menikah tanpa
alat pencegah kehamilan, sehingga mengakibatkan tingginya angka kehamilan yang
tidak dikehendaki, aborsi yang tidak aman, cepatnya penyebaran infeksi menular
seksual, khususnya infeksi HIV/AIDS (50% dari semua kasus baru infeksi HIV
terjadi diantara remaja yang berumur 15-24 tahun).
Kebutuhan akan pelayanan kesehatan
dan sosial terhadap remaja semakin menjadi perhatian. Di Indonesia banyak
organisasi yang telah menciptakan berbagai program agar dapat memenuhi
kebutuhan para remaja di bidang kesehatan reproduksi remaja, baik program
pemerintah maupun program non pemerintah.
A. Program
Pemerintah
1.
PIK
Remaja dan Mahasiswa
Program kesehatan reproduksi remaja merupakan
salah satu program pokok pembangunan nasional yang tercantum dalam RPJM
2004-2009. Salah satu sasaran strategis yang ingin dicapai adalah berkaitan
erat dengan program kesehatan reproduksi remaja yang ditingkatkan melalui
PIK-KRR (pusat informasi dan konseling kesehatan reproduksi remaja).
Pusat
Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) oleh BKKBN dibagi
menjadi dua yaitu: Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja) dan Pusat
Informasi dan Konseling Mahasiswa (PIK Mahasiswa) .
2.
Program Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)
Sejak tahun 2003 model pelayanan
kesehatan yang ditujukan dan dapat dijangkau remaja, menyenangkan, menerima
remaja dengan tangan terbuka, menghargai remaja, menjaga kerahasiaan, peka akan
kebutuhan terkait dengan kesehatannya, serta efektif dan efisien dalam memenuhi
kebutuhan dan selera remaja diperkenalkan dengan sebutan Pelayanan Kesehatan
Peduli Remaja (PKPR).
PKPR dilaksanakan di dalam gedung
atau di luar gedung Puskesmas termasuk Poskestren, menjangkau kelompok remaja
sekolah dan kelompok luar sekolah, seperti kelompok anak jalanan, karang taruna,
remaja mesjid atau gereja, dan lain-lain yang dilaksanakan oleh petugas
puskesmas atau petugas lain di institusi atau masyarakat.
Jenis kegiatan PKPR meliputi
penyuluhan, pelayanan klinis medis termasuk pemeriksaan penunjang, konseling,
pendidikan keterampilan hidup sehat (PKHS), pelatihan pendidik sebaya (yang
diberi pelatihan menjadi kader kesehatan remaja) dan konselor sebaya (pendidik
sebaya yang diberi tambahan pelatihan interpersonal relationship dan
konseling), serta pelayanan rujukan.
Jumlah Puskesmas PKPR dari 33
Provinsi yang melaporkan sampai dengan bulan Desember 2010 sebanyak
2190 puskesmas dan jumlah tenaga kesehatan yang dilatih PKPR sampai
Desember 2008 sebanyak 2232 orang.
Dalam melayani permasalahan remaja
khususnya, Kementrian Pendidikan telah mewajibkan
adanya fasillitas UKS di setiap sekolah negeri mau pun swasta.
Hal ini adalah untuk membantu mengatasi permasalahan siswa/siswi terutama yang
menginjak dewasa dalam lingkup sekolah. Silakan klik file terlampir lebih jauh
mengenai program UKS.
CERIA
(Cerita Remaja Indonesia) merupakan program BKKBN dalam rangka menyampaikan
pendidikan seksual pada remaja
B.
Program non Pemerintah (di bawah
LSM)
Program
ini bertujuan agar semua anak dan remaja (termasuk remaja di pasar, pesantren,
sekolah, maupun jalanan) memahami dan mampu membuat keputusan secara
bertanggung jawab dan mempraktekkan kesehatan reproduksi & seksual serta
hak-hak kesehatan reproduksi & seksual yang berkesetaraan dan berkeadilan
gender. Program non Pemerintah, yaitu:
1.
Program Intervensi Perubahan
Perilaku
Program KPAN (Komisi Penanggulangan
AIDS Nasional), Kementrian Kesehatan dan PKBI dalam pencegahan HIV/AIDS. Bentuk
programnya yaitu dengan training untuk perubahan perilaku pada remaja.
2.
Program
Bina Anaprasa (BA)
Dirintis
pada tahun 1979 oleh Prof. DR. M. Haryono Sudigdomarto di Jawa Timur, konsep BA
mengangkat potensi keluarga dan masyarakat untuk mengembangkan pendidikan pra
sekolah (3 – 6 tahun) yang memberikan wadah tumbuh kembang bagi anak sehingga
menjadi anak yang sehat, cerdas, ceria, kreatif, dan berbudi pekerti tinggi.
Pada saat yang sama, BA juga menjangkau dalam bidang KB, kesehatan reproduksi,
kesehatan diri, kebersihan lingkungan, hingga peningkatan ekonomi keluarga.
Melalui
program ini PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) mengajak masyarakat
untuk menganalisa kebutuhan mereka dalam hal kesehatan reproduksi yang entry
point-nya pendidikan usia dini bagi anak-anak dan pendidikan
kesehatan bagi ibu atau orang tua. Masyarakat diharapkan menyediakan
tempat untuk sekolah dan tenaga pengajar serta mengelola program.
Saat
ini program ini tersebar di 41 sekolah di Bengkulu DKI Jakarta , Jawa
Timur , Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah , Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara
Barat.
Selain
itu PKBI juga mengembangkan Program Pendidikan Kecakapan Sosial Anak usia 4-6
tahun untuk Meningkatkan Kecakapan Sosial dan Emosi Anak dan Mencegah Kekerasan
Seksual terhadap Anak. Melalui program ini PKBI telah mengembangkan media-media
pendidikan penunjang seperti boneka yang bisa melahirkan , buku cerita
seperti “Tubuhku” untuk anak-anak dan buku pedoman bagi orang tua dan
guru.
3.
Women’s Crisis Center
Sejak tahun 1993, di Indonesia telah
berdiri berbagai Women’s Crisis Center. Di antaranya Rifka Annisa di Jogjakarta,
Mitra Perempuan di Jakarta, Sahabat Perempuan di Magelang, dsb.
Aktivitas WCC secara mayoritas
adalah memberikan pelayanan pendampingan untuk para korban kekerasan terhadap
perempuan. Kasus yang menonjol terjadi di antara remaja perempuan adalah
kekerasan oleh pasangan (pacar), perkosaan dan pelecehan seksual. Selain itu,
para WCC ini biasanya juga melakukan advokasi agar ada kebijakan baik di
tingkat nasional maupun nasional yang mendukung pencegahan kekerasan terhadap
perempuan ataupun kerja-kerja pendampingan bagi korban kekerasan, termasuk di
dalamnya remaja perempuan.
Di luar pendampingan dan advokasi,
juga banyak diselenggarakan training, workshop, kampanye dan sebagainya yang
ditujukan untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang isu gender dan
kekerasan berbasis gender. Untuk remaja, Rifka Annisa di Jogja pernah melakukan
Youth Camp, sebagai bagian dari upaya penyadaran gender bagi remaja.
4.
Pusat
Informasi dan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja (PIPR / Youth Center)
Kegiatan
yang dilakukan oleh Youth Center antara lain :
§ Penyebaran
informasi bagi remaja di sekolah dan luar sekolah termasuk pesantren.
§ Training
tentang kesehatan dan hak-hak seksual serta reproduksi remaja untuk peer
educator, konselor, wartawan, orangtua, tokoh masyarakat dan guru.
§ Seminar,
panel diskusi, diskusi kelompok, konseling (tatap muka, surat, email, telepon),
radio program, surat kabar, pelayanan medis, on the spot clinic.
§ Melakukan
advokasi kaitannya dengan isu Kesehatan Reproduksi Remaja
Prinsip program remaja di PKBI antara lain :
§ Remaja
berhak mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi yang lengkap
dan tepat sesuai dengan kebutuhan mereka
§ Remaja
berhak dilibatkan dalam pelaksanaan program, mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi
§ Remaja
perlu memiliki sikap dan perilaku yang sehat dan bertanggung jawab berkenaan
dengan kesehatan reproduksinya
Pendekatan yang dilakukan Youth Center adalah dari,
untuk dan oleh remaja. PKBI secara rutin merekrut remaja untuk diseleksi dan
dilatih menjadi peer educator atau peer counselors. Youth Center ini
sepenuhnya dikelola oleh remaja.
Saat ini PKBI memiliki 28 Youth Center yang tersebar
di 24 propinsi di seluruh Indonesia, yaitu DI Aceh, Sumatera Utara, Sumatera
Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung, Riau, Jawa Barat, DKI
Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa
Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan
Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulwesi Tengah, dan Papua.
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI, Direktorat Kesga, Materi Pelatihan
Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja, 2003.
http://www.k4health.org/toolkits/indonesia/program-program-kesehatan-reproduksi-remaja-6
(Dikutip tanggal
09 April 2011 jam 20:46)
(Dikutip tanggal 09 April 2011 jam 20:57)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar